Bundling, Siapa Untung?

XL melakukan terobosan di program bundling menggandeng produsen ponsel Samart. Produsen ponsel asal Thailand mendistribusikan ponsel bermerek iMobile ke berbagai negara Asia Tenggara. Mulai Malaysia, Vietnam, Sri Lanka, Bangladesh, Laos, dan yang terakhir adalah Indonesia. Salah satu pemegang saham perusahaan ini adalah Telekom Malaysia. ”Partnership XL dan Samart menjadi mudah karena kita disatukan di bawah payung Telekom Malaysia,” jelas Ruby Hermanto, GM Marketing Product XL.
Pola kerjasama kedua perusahaan ini adalah konsinyasi. Samart menyediakan ponsel dan memberikan layanan purna jual terhadap konsumen. Sedangkan XL bertugas untuk menjual produk dan melakukan promosi. Menurut Ruby, harga iMobile sangat kompetitif, hingga XL merasa dapat memberikan nilai lebih kepada pelanggannya.
iMobile sendiri tidak akan dijual ritel sebagaimana merek ponsel lainnya. Sebetulnya ini adalah strategi yang lebih baik ketimbang masuk sendiri ke pasar ritel yang telanjur matang ini. Namun, tentu saja keberhasilannya tergantung dari seberapa gencar XL sebagai partner mengkomunikasikan iMobile dalam kampanyenya.
Sebagai langkah awal XL akan meluncurkan lima ponsel iMobile, seri 901, 600, 601, 308 dan 311. iMobile 901 dengan fitur multimedia kemampuan menangkap sinyal TV analog hanya dibandrol harga Rp 3,1 juta untuk pelanggan Xplore. Sementara untuk pelangan Bebas dan Jempol harganya Rp 3,5 juta. Sementara iMobile seri i606 untuk pelanggan Xplore dijual dengan harga Rp 1,05 juta. Apabila mereka mengikuti program Power Plan akan mendapat bonus Rp 50 ribu saban bulan.
Produsen yang gencar melakukan kerjasama penjualan bundling ini adalah Samsung. Sukses dengan Mobile-8 yang mengusung program Frenship, kini Samsung menjual SCH-N510 dengan paket Fren Slimo seharga Rp 680 ribu. Telkomsel juga menggandeng Samsung, dengan menjual Simpati dipaket dengan Samsung SGH X150. Sementara Indosat menjual produk Mentari-Samsung SGH C120.
Yang agak mengherankan operator juga menjual pola budling ini untuk kartu prabayarnya. Dengan kartu prabayar, operator tidak bisa mengharap keterikatan jangka panjang dengan konsumennya. Apalagi sekarang harga kartu perdana sendiri sangat murah. Jadi keterikatan apa yang diharapkan operator hinga konsumen benar-benar menggunakan nomor dan ponsel tersebut dalam satu paket. Ikatan yang sangat longgar ini yang membuat kita ragu, apakah harga banderol ponsel yang dijual paket itu jauh lebih murah dibanding jika dijual ritel?
Tapi, operator masih punya gigi. Buktinya, Telkomsel memaksa dealernya untuk mengambil setidaknya dua buah ponsel untuk masing-masing toko. Ini yang membuat dealernya ngos-ngosan. Apalagi, harga ponsel Samsung yang dibundling tergolong mahal. ”Kalau kami tidak membeli akan mendapat nilai negatif. Akibatnya kuota voucher dan kartu perdana akan dikurangi,” ujar S. Teguh, seorang dealer Telkomsel di Bandung. Teguh sendiri memiliki 20 jaringan toko, yang berarti dia mesti mengambil 40 ponsel bundling tersebut. Hal lain yang dikeluhkan, total harga yang dijual relatif mahal karena operator tidak melakukan subsidi sama sekali.
Nah, kalau seperti ini, program jualan bundling ujung-ujungnya hanya formula jualan model baru saja. Sama saja dengan membeli ponsel dan kartu perdana secara terpisah.(Yogi)
|
Operator |
Ponsel |
Periode |
Harga |
Bonus |
|
Telkomsel (Simpati) |
Samsung SGH X150 |
|
Rp.799.000 |
Bonus 20 SMS |
|
XL (Xplor, Bebas, Jempol) |
i-Mobile seri 901, 600, 606, 308, 311) |
9 Juni- 31 Oktober |
iMobile 901 -Xplore: Rp3,1 juta -Bebas dan Jempol Rp3,5 juta iMobile 600 -Xplore Rp1,74 juta -Bebas dan Jempol Rp1, 9 juta iMobile 606 -Xplore Rp1,058 juta -Bebas dan Jempol: Rp1,2 juta |
Program Power Plan berisi bonus pulsa 50 ribu setiap bulan selama 5 bulan. |
|
Mobile-8 (Frensip Slimo) |
Samsung SCH N510) |
23 Maret- waktu yang belum ditentukan |
Rp680 ribu |
- pulsa Rp10 ribu -Gratis Ringback tone selama satu bulan -Bonus pulsa Rp.15 ribu setiap bulan selama dua tahun |
|
Indosat-Mentari |
Samsung SGH C120 |
6 juni - 31 Juli |
Rp599 ribu |
-5 jam free talk dari 00.00- 05.00 |
